Padukan Dua Laras Gambelan Dalam Satu Pementasan

  • 03 Juli 2018
  • Oleh: humas
  • Dibaca: 387 Pengunjung

Duta Gambelan Inovatif Denpasar 'Bius' Penonton di Gedung Ksirarnawa

Denpasar, Beragam sejian seni mendapat ruang tersendiri dalam gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 tahun 2018 ini. Tidak hanya kesenian tredisi, berbagai kesenian inovatif pun turut mendapat ruang berekspresi. Seperti halnya Sanggar Citta Kelangen, Banjar Tengah Desa Sidhakarya yang merupakan Duta Kesenian inovatif Kota Denpasar yang unjuk kebolehan di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center, Denpasar, Senin (2/7) malam.

Riuh penonton tampak memenuhi satu persatu kursi yang tersedia. Bahkan tak jarang masyarakat yang antusias menonton turut berdiri lantaran kursi yang tersedia telah penuh terisi. Ragam tabuh dengan jiwa khas semare pegulingan yang dipadukan dengan gender wayang menambah khidmatnya sajian seni inovatif yang seakan membius penonton. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Kadisbud Kota Denpasar, IGB Mataram, serta Kurator dan pengamat seni PKB ke-40.

Adapun materi yang dibawakan meliputi Tabuh Rerangsangan yang menggambarkan pluralisme dan toleransi sebagai wujud pengakuan atas perbedaan. Katarerangsang memiliki arti menyelaraskan. Dengan menggunakan dua barungan gamelan gender wayang dan beberapa gamelan samara pegulingan yang masing-masing memiliki perbedaan secara bentuk, fisik, teknik tabuhan dan laras. Selain itu turut ditampilkan Tari Janji Hanoman yang menggambarkan janji hanoman kepada Sang Rama. Serta Tari Sintha Labuh Geni yang menceritakan Dewi Sintha yang rela terbakar untuk menunjukan kesetianya kepada Sang Rama.

Kordinator Sanggar, I Wayan Rena saat dijumpai disela pementasan mengatakan bahwa pementasan seni inovatif memang baru dikenal masyarakat beberapa tahun belakangann. Kendati demikian, keberadaan seni inovatif mendapatkan perhatian di tengah masyarakat. "Seni inovatif ini masih tergolong baru, tapi tak jarang masyarakat justru tertarik untuk menonton sajian tabuh dengan beragam jenis gambelan ini," ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, diperlukan keseriusan dan pendalaman rasa dalam penggarapan seni inovatif. Hal ini lantaran seni inovatif masih bersifat improvisasi namun tidak melupakan pakem seni sehingga dapat dikatakan sebagai sebuah tabuh seutuhnya. 

"Hal inilah yang menjadi keunikan Gambelan Inovatif, dimana penggarapnya harus benar-benar mampu menyelaraskan beberapa instrumen seperti halnya Semarepegulingan yang berlaras Pelog, dan Gender Wayang dengan laras Selendro, keselarasan inilah yang memerlukan rasa dalam setiap penggarapanya sehingga mejadi selaras, serasi serta sesuai dengan pakem seni tabuh," paparnya.

Rena berharap kedepanya pementasan seni inovatif ini menjadi salah satu pemantik tumbuh kembangnya kesenian di Bali. "Selain seni tradisi, seni inovatif juga harus tetap dikembangkan sebagai wujud pengembangan terhadap seni dan budaya itu sendiri, namun tetap tidak melupakan seni tradisi sebagai cikal-bakal seni di Bali," pungkasnya. (Ags/HumasDps)


  • 03 Juli 2018
  • Oleh: humas
  • Dibaca: 387 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Drs. A.A. Ngurah Rai Iswara, M.Si

Apakah Informasi yang tersaji pada Website Sekretariat Daerah Kota Denpasar, bermanfaat bagi Anda?